KALIMANTAN TENGAH — Samsung mempertahankan posisi teratas pasar smartphone global dengan pangsa 23 persen pada kuartal III-2026, hanya unggul satu poin dari Apple di posisi kedua. Laporan Counterpoint Research mencatat pengiriman HP dunia merosot 20 persen tahunan akibat kenaikan harga komponen dan keterbatasan pasokan memori.
Laporan Counterpoint Research yang dirilis 14 Oktober 2026 menempatkan Samsung di puncak dengan pangsa pasar 23 persen, disusul Apple 22 persen. Jarak keduanya kini hanya satu poin persentase, menandakan persaingan produsen premium makin rapat di tengah tekanan biaya produksi.
Penurunan pengiriman global sebesar 20 persen tahunan membuat produsen harus memilih antara menanggung kenaikan biaya komponen atau meneruskannya ke harga jual. Strategi premium jadi penyelamat margin bagi dua pemain teratas.
Mengapa Samsung Masih di Puncak Meski Pengiriman Turun
Pengiriman Samsung tercatat turun 3 persen secara tahunan, tetapi pangsa pasarnya justru naik dari 19 persen pada kuartal III-2025 menjadi 23 persen. Permintaan awal Galaxy Z Fold 8 dan pasokan komponen yang relatif stabil disebut membantu Samsung menjaga daya saing.
Apple mencatat kenaikan pangsa dari 18 persen menjadi 22 persen. Respons positif terhadap iPhone 18 Pro di China dan India menjadi pendorong utama, meski pengiriman iPhone tertekan karena iPhone 18 reguler tidak hadir dalam peluncuran September.
Xiaomi, Oppo, dan Vivo Tertekan Lebih Dalam
Xiaomi turun ke peringkat ketiga dengan pangsa 10 persen, anjlok dari 14 persen pada periode yang sama tahun lalu. Pengiriman Xiaomi merosot lebih dari 30 persen tahunan seiring penyesuaian fokus pada segmen murah dan distribusi produk.
Meski begitu, Xiaomi tetap memperkuat segmen menengah atas dan premium di China melalui seri Xiaomi 18, perangkat lipat, dan pengembangan chipset internal Xring O3. Langkah ini bagian dari strategi jangka panjang perusahaan.
Oppo berada di posisi keempat dengan 9 persen, sedangkan Vivo kelima dengan 8 persen. Pengiriman kedua merek turun lebih dari 20 persen akibat kenaikan biaya komponen dan penyesuaian harga perangkat.
Oppo merampingkan portofolio bersama Realme dan OnePlus untuk efisiensi operasional. Vivo memperkuat pasar India dan China lewat seri Y, sekaligus mengembangkan lini premium X, V, dan S.
Harga HP Naik 20 Persen, Apa Dampaknya bagi Konsumen
Kenaikan harga memori DRAM dan NAND menjadi pemicu utama tekanan industri. Kedua komponen berperan vital menjalankan aplikasi hingga menyimpan foto dan video, sehingga gangguan biaya dan pasokan memaksa produsen menghitung ulang struktur harga.
Data dalam laporan menyebut harga ritel smartphone global naik sekitar 20 persen sepanjang 2026. Kondisi ini berpotensi membuat konsumen lebih selektif, terutama yang mencari perangkat dengan anggaran terbatas.
Bagi calon pembeli, mengejar model terbaru bukan satu-satunya jalan. Kapasitas memori, dukungan pembaruan perangkat lunak, kondisi baterai, dan perkiraan masa pakai layak jadi pertimbangan utama.
HP generasi sebelumnya yang masih mendapat dukungan resmi bisa jadi alternatif jika harganya lebih terjangkau. Perangkat rekondisi juga dapat dipertimbangkan asalkan kondisi baterai, garansi, dan reputasi penjualnya jelas.
Proyeksi Sisa 2026
Counterpoint Research memperkirakan tekanan pasar berlanjut hingga akhir 2026. Produsen kemungkinan tetap mengutamakan efisiensi, menyesuaikan jumlah model, dan mengelola produksi sampai kondisi pasokan membaik.
Bagi pengguna di Indonesia, tren kenaikan harga ini patut jadi alarm untuk lebih cermat memilih perangkat. Model premium dengan dukungan software panjang umumnya menawarkan nilai jual kembali lebih baik ketimbang seri murah yang cepat usang.