Pencarian

Langit Kalteng Berwarna Oranye saat Karhutla, BMKG Sebut Efek Hamburan Mie Bukan Radiasi Api

Sabtu, 17 Oktober 2026 • 10:17:31 WIB
Langit Kalteng Berwarna Oranye saat Karhutla, BMKG Sebut Efek Hamburan Mie Bukan Radiasi Api
Langit Kalimantan Tengah tampak oranye saat karhutla memuncak akibat hamburan Mie dari partikel aerosol pekat.

PALANGKARAYA — Perbedaan warna langit di Kalimantan Tengah dengan wilayah tetangga seperti Kalimantan Selatan dan Kalimantan Barat bukan kebetulan. Kedua provinsi terakhir umumnya diselimuti kabut asap abu-abu atau putih kecokelatan, sementara Kalteng kerap tampil oranye menyala saat karhutla memuncak.

Penjelasannya ada pada karakter lahan gambut yang mendominasi wilayah Kalteng. Pembakaran tak sempurna di bawah permukaan, atau smoldering, menghasilkan karbon cokelat dan tar balls dalam jumlah besar.

Apa Itu Hamburan Mie yang Membuat Langit Jadi Oranye

Dalam kondisi atmosfer normal, molekul gas membiaskan cahaya matahari gelombang pendek seperti biru dan ungu sehingga langit tampak biru. Prinsip fisika ini dikenal sebagai Mie Scattering atau hamburan Mie.

Saat kebakaran lahan gambut hebat terjadi, atmosfer dipenuhi mikro partikel aerosol PM2,5 dan PM10 dalam konsentrasi sangat pekat. Partikel-partikel itu bertindak sebagai filter optik raksasa.

Spektrum warna gelombang pendek diserap dan dihamburkan ke luar jalur pandang. Hanya gelombang cahaya terpanjang, yakni merah dan oranye, yang mampu menembus ketebalan asap hingga sampai ke mata manusia di permukaan bumi.

Mengapa Kalteng Berbeda dari Kalsel dan Kalbar

Emisi pembakaran di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Barat umumnya berasal dari vegetasi permukaan serta asap dispersi yang terbawa angin. Kandungan abu melayang dan uap air yang tinggi di wilayah itu memantulkan seluruh spektrum cahaya secara merata, sehingga kabut asap tampak abu-abu.

Kalteng punya daya serap radiasi jauh lebih kuat terhadap warna biru. Tingkat ketebalan optik aerosol di wilayah sumber kebakaran gambut pekat tercatat berada pada level ekstrem.

Studi literatur internasional mengenai emisi pembakaran biomassa Indonesia mencatat nilai AOD yang melonjak tinggi memicu penyerapan total pada spektrum cahaya tampak tertentu.

Warna Oranye Bukan Berarti Aman

BMKG menegaskan warna oranye kemerahan murni pembiasan cahaya akibat tingginya kerapatan partikulat di udara. Namun warna itu tetap sinyal bahaya bagi kesehatan warga.

Berdasarkan kriteria pengukuran kualitas udara BMKG maupun standar internasional EPA, kabut asap berwarna oranye menandakan kualitas udara sangat tidak sehat. Konsentrasi polutan tinggi dan berisiko bagi kelompok rentan seperti lansia, anak-anak, dan penderita asma.

Kondisi berubah lebih buruk jika langit bergeser ke merah pekat. Warna itu menunjukkan kerapatan partikulat sudah sangat padat sehingga hampir seluruh spektrum cahaya tampak tersaring total dan hanya gelombang merah paling panjang yang tersisa.

Pada level tersebut, paparan racun dan polutan di udara berada di puncaknya. Kualitas udara kategori berbahaya dapat memicu penurunan fungsi paru-paru, iritasi berat, serta dampak kesehatan serius bagi seluruh populasi, bahkan saat beraktivitas singkat di luar ruangan.

Yang Perlu Diwaspadai Warga Saat Langit Berubah Warna

Perubahan warna langit bisa jadi penanda awal bagi warga untuk membatasi aktivitas luar ruang. Semakin pekat warna oranye menuju merah, semakin tinggi konsentrasi partikulat yang terhirup.

Kelompok rentan diimbau lebih dulu mengenakan masker dan mengurangi paparan. Pemantauan kualitas udara dari BMKG menjadi rujukan utama sebelum memutuskan beraktivitas di luar rumah.

Follow monitorkalteng.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: redaksi8.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks