Pencarian

IHSG Anjlok 2,20% ke 5.812, Bursa Asia Rontok Imbas Inflasi AS 3,7%

Kamis, 15 Oktober 2026 • 12:09:01 WIB
IHSG Anjlok 2,20% ke 5.812, Bursa Asia Rontok Imbas Inflasi AS 3,7%
IHSG melemah 2,20% ke level 5.812,45 pada perdagangan Kamis (15/10/2026) pukul 11.00 WIB.

KALIMANTAN TENGAH — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) merosot 2,20% ke level 5.812,45 pada perdagangan Kamis (15/10/2026) sekitar pukul 11.00 WIB, seiring mayoritas bursa Asia-Pasifik yang turun tajam. Pelemahan dipicu data inflasi Amerika Serikat September 2026 yang naik di luar perkiraan pasar ke 3,7% YoY, memicu ekspektasi kebijakan The Fed yang lebih ketat.

Data RTI Business mencatat IHSG jatuh bersama indeks regional lainnya. Straits Times Index (STI) Singapura melemah 0,90% ke 5.374,75, Shanghai Composite Index (SSEC) turun 1,98% ke 3.692,64, Hang Seng Index (HSI) melemah 1,47% ke 23.955,58, dan Nikkei 225 Jepang anjlok 4,71% ke 64.555.

Koreksi serentak ini berakar pada rilis Consumer Price Index (CPI) AS September yang naik melampaui konsensus ke 3,7% YoY, dengan inflasi inti di 2,6%.

Herditya MNC Sekuritas: The Fed Bakal Naikkan FFR Sekali Lagi

Head of Retail Research MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, menilai kenaikan inflasi AS membuat bank sentral bersikap hawkish. Pasar memperkirakan The Fed masih akan menaikkan Fed Fund Rate (FFR) satu kali sebelum akhir 2026.

"Koreksi ini (IHSG) juga sejalan dengan pergerakan bursa global dan mayoritas bursa Asia yang juga terkoreksi pasca-rilis data inflasi AS September 2026 yang bergerak menguat ke 3,7% YoY, yang masih cukup jauh dari target inflasi The Fed," ucap Herditya kepada detikcom, Kamis (15/10/2026).

Ia memperkirakan yield US Treasury (UST) yang saat ini masih di atas 5% akan naik lebih lanjut. Kondisi itu berpotensi memperbesar arus modal keluar dari negara berkembang, termasuk Indonesia.

"Akan ada kenaikan FFR 1 kali sebelum akhir 2026. Kami memperkirakan, dengan adanya nada hawkish ini, akan meningkatkan yield UST yang saat ini masih berada di atas 5% serta akan meningkatkan outflow dari EM," pungkasnya.

Tiga Sentimen yang Menekan IHSG Menurut BRI Danareksa Sekuritas

Riset BRI Danareksa Sekuritas memerinci tiga pemicu rontoknya IHSG:

  • Inflasi AS di atas ekspektasi — CPI September 3,7% YoY, inflasi inti 2,6%. Ini memperkuat dolar AS dan berpotensi menekan rupiah serta risiko arus keluar dana asing dari pasar berkembang.
  • Eskalasi konflik Timur Tengah — ancaman Houthi terhadap fasilitas minyak Arab Saudi meningkatkan risiko gangguan pasokan energi dan volatilitas harga minyak.
  • Surplus dagang China — September mencapai US$ 133,53 miliar dengan ekspor tumbuh 36,3% dan impor 31% YoY. Sentimen positif bagi permintaan komoditas Indonesia, namun dampaknya terhadap IHSG tertahan sentimen global.

Dampak ke Investor: Rupiah dan Obligasi Jadi Titik Rawan

Bagi investor, kombinasi yield UST di atas 5% dan sikap hawkish The Fed membuat aset berdenominasi dolar lebih menarik ketimbang pasar negara berkembang. Tekanan terhadap rupiah berpotensi memicu aksi jual lanjutan di saham-saham yang sensitif terhadap kurs dan sektor berkapitalisasi besar.

Surplus dagang China yang tumbuh dua digit sebenarnya memberi bantalan bagi eksportir komoditas Indonesia seperti batu bara, CPO, dan nikel. Namun, aliran dana asing yang keluar dari pasar keuangan domestik diperkirakan masih mendominasi arah IHSG dalam jangka pendek.

Investor perlu mencermati rilis data inflasi domestik dan arahan Bank Indonesia selanjutnya, karena kombinasi tekanan eksternal dan kebijakan moneter dalam negeri akan menentukan apakah IHSG mampu bertahan di level 5.800 atau berpotensi menguji support lebih rendah.

Follow monitorkalteng.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: finance.detik.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks