KALIMANTAN TENGAH — Harga minyak mentah Brent turun tipis 7 sen atau 0,07 persen menjadi US$99,18 per barel pada Rabu (23/9), sehari setelah pertama kali ditutup di bawah US$100 sejak 8 September. Penurunan dipicu pulihnya operasi East-West Pipeline milik Arab Saudi menuju Laut Merah dan harapan solusi diplomatik konflik AS-Iran. WTI juga melemah 35 sen atau 0,39 persen ke US$90,17 per barel.
Pemulihan jalur pipa itu mengembalikan aliran sekitar 4 juta barel minyak mentah per hari ke pelabuhan Yanbu, setara 4 persen pasokan global. Pipa East-West sempat ditutup setelah serangan drone pada 11 September yang menghentikan pemuatan minyak di Yanbu.
Sejak konflik AS-Israel dengan Iran mengganggu aliran minyak melalui Selat Hormuz, Arab Saudi mengandalkan pipa tersebut untuk mengalihkan pasokan ke Laut Merah. Kembalinya operasi pipa menjadi sinyal pertama bahwa gangguan logistik di kawasan mulai mereda.
Irak dan AS Tambah Tekanan ke Harga
Tekanan jual bertambah dari sisi pasokan. Menteri Perminyakan Irak Basim Mohammed menyatakan negaranya mengekspor lebih dari 3 juta barel per hari dan menargetkan ekspor via Turki naik menjadi lebih dari 600 ribu barel per hari.
Dari Amerika Serikat, data industri menunjukkan persediaan minyak mentah naik 1,8 juta barel pada pekan yang berakhir 18 September. Angka itu berlawanan dengan perkiraan analis yang disurvei Reuters, yang memproyeksikan penurunan stok.
Harapan Perundingan AS-Iran di PBB
Sentimen pasar juga dibentuk perkembangan diplomasi. Presiden AS Donald Trump menyebut utusannya, Steve Witkoff dan Jared Kushner, telah melakukan pembicaraan produktif dengan mediator Iran di sela perundingan di PBB, New York.
Chief Analyst KCM Trade Tim Waterer menilai pasar kini membaca prospek pasokan global dengan kacamata lebih positif dibandingkan beberapa pekan sebelumnya.
"Pasar saat ini merasa lebih konstruktif terhadap prospek pasokan minyak global dibandingkan beberapa pekan lalu," kata Waterer dikutip Reuters.
Yang Perlu Dicermati Pelaku Pasar
Bagi investor, kombinasi pasokan yang kembali normal dan stok AS yang menumpuk menjaga harga tertahan di bawah US$100. Namun risiko tetap terbuka jika perundingan AS-Iran menemui jalan buntu atau gangguan baru muncul di Selat Hormuz.
Pergerakan Brent dan WTI dalam beberapa sesi ke depan akan bergantung pada dua hal: kelancaran operasi pipa Arab Saudi dan hasil lanjutan pembicaraan diplomatik di PBB.