Dokumenter NAZA Dipuji 25 Menit di Venice, Naftali Bennett Murka

Penulis: Irfan Hakim  •  Jumat, 11 September 2026 | 22:49:31 WIB
Penonton bertepuk tangan selama 25 menit usai pemutaran perdana dokumenter NAZA di Sala Grande, Venice.

KALIMANTAN TENGAH — Kemarahan Naftali Bennett tertuang dalam unggahan panjang di platform X, Jumat sore waktu setempat. Ia merespons langsung debut NAZA di Sala Grande, Venice, yang berlangsung sehari sebelumnya.

NAZA sendiri bukan film biasa. Dokumenter ini dibangun dari wawancara dengan 24 perwira dan tentara intelijen Israel, mengungkap sistem berbasis poin, pengawasan ponsel, dan kecerdasan buatan yang dipakai militer Israel untuk menentukan target di Gaza.

Isi Kecaman Naftali Bennett

Bennett tidak menahan diri. Dalam unggahannya, ia menulis bahwa film ini menuduh Israel melakukan genosida.

"Kemarin, sebuah film yang menuduh Israel melakukan genosida tayang perdana," tulis Bennett. "Ini adalah blood libel yang mengerikan terhadap putra dan putri kami."

Ia melanjutkan dengan menyebut yang paling menyakitkan adalah fakta bahwa "kebohongan ini datang dari pembuat film Israel dan kini menyebar ke seluruh dunia."

Bennett juga mendaftar sejumlah kejahatan yang ia klaim dilakukan Hamas pada 7 Oktober. Ia menutup dengan menyatakan rasa bangga dan terima kasih mendalam kepada tentara cadangan dan tentara Israel yang "berdiri di antara kami dan pembantaian berikutnya."

"Menggambarkan mereka sebagai pelaku 'genosida' bukanlah seni yang berani," tulisnya. "Itu blood libel yang pengecut. Dan saya tidak akan diam."

Rekor Ovasi 25 Menit di Venice

NAZA tayang perdana di Sala Grande, Venice, Kamis malam. Penonton berdiri dan bertepuk tangan selama 25 menit—ovasi terpanjang yang pernah tercatat untuk film mana pun di festival besar.

Angka itu melampaui rekor sebelumnya: The Voice of Hind Rajab yang mendapat hampir 24 menit di Venice tahun lalu, dan Pan's Labyrinth karya Guillermo del Toro dengan 22 menit. Di Venice tahun ini, tidak ada film lain yang mendekati durasi ovasi NAZA.

Film ini juga menjadi perbincangan karena posisinya sebagai kelanjutan dari No Other Land, dokumenter yang memenangkan Oscar 2025 untuk kategori Best Documentary. No Other Land disutradarai Abraham dan Szor bersama pembuat film Palestina Basel Adra dan Hamdan Ballal, mendokumentasikan upaya militer Israel menghapus desa-desa Palestina di Masafer Yatta, Tepi Barat.

Respons IDF dan Konteks Internasional

Juru bicara Pasukan Pertahanan Israel (IDF) juga merilis pernyataan resmi terkait NAZA. Mereka membantah apa yang disebut sebagai "tuduhan dalam film ini."

Isu genosida sendiri bukan tanpa dasar hukum. Pada September 2025, Komisi Penyelidikan Internasional Independen PBB menyimpulkan bahwa Israel telah melakukan genosida terhadap warga Palestina di Gaza.

Laporan komisi menyatakan ada alasan kuat untuk menyimpulkan bahwa empat dari lima tindakan genosida yang didefinisikan hukum internasional telah dilakukan Israel sejak konflik dengan Hamas dimulai pada 2023: membunuh anggota kelompok, menyebabkan kerusakan fisik dan mental serius, dengan sengaja menciptakan kondisi yang dihitung untuk menghancurkan kelompok, dan mencegah kelahiran. Laporan itu mengutip pernyataan para pemimpin Israel sebagai bukti niat genosida. Israel membantah tuduhan tersebut.

Bennett sendiri menjabat Perdana Menteri Israel selama satu tahun, antara Juni 2021 dan 2022. Kini ia menjadi salah satu kandidat utama dalam pemilihan umum Israel 2026.

NAZA menambah daftar panjang dokumenter yang berani mengangkat perspektif kritis terhadap kebijakan Israel, sekaligus memicu debat publik di panggung festival film internasional.

Reporter: Irfan Hakim
Sumber: deadline.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top