KALIMANTAN TENGAH — Pemisahan tahap kedua ini efektif menyusul tahap pertama yang berlaku sejak Januari 2026. InfraNexia diposisikan sebagai neutral carrier yang melayani kebutuhan infrastruktur TelkomGroup sekaligus membuka akses lebih luas ke pelanggan eksternal.
Langkah tersebut menjadi bagian dari agenda TLKM 30 yang mengubah struktur Telkom menuju model Strategic Holding Company-Operating Company (HoldCo-OpCo).
Dalam model baru ini, Telkom melakukan delayering bisnis menjadi lima segmen utama: B2C, B2B Infrastructure, B2B ICT, International, serta Others dan Ancillary. Tujuannya mengurangi tumpang tindih bisnis dan memperjelas akuntabilitas tiap unit.
Direktur Utama Telkom Dian Siswarini menyebut delayering sebagai fondasi transformasi karena setiap bisnis di dalam grup perlu memiliki tanggung jawab yang jelas terhadap kinerjanya.
"Delayering ini sangat penting karena kami ingin setiap bisnis di TelkomGroup memiliki akuntabilitas yang lebih jelas dan fokus pada bisnis inti, dengan visibilitas yang lebih baik terhadap kinerja, arus kas, dan investasi pada masing-masing bisnis," ujar Dian dalam Public Expose Live 2026.
Dengan struktur yang lebih sederhana, Telkom mengklaim dapat mengambil keputusan strategis lebih cepat, termasuk menentukan unit mana yang butuh tambahan modal.
InfraNexia mengelola lebih dari 90% aset jaringan Telkom. Pemisahan ini disebut memperkuat posisi entitas tersebut untuk menggarap pelanggan di luar TelkomGroup, bukan sekadar melayani kebutuhan internal.
Bagi Telkom, bisnis infrastruktur menjadi salah satu sumber value creation terbesar. Karena itu, spin-off ini tidak berhenti pada perubahan struktur organisasi, tetapi juga menyasar efisiensi dan transparansi pengelolaan aset.
Strategi serupa diterapkan pada bisnis pusat data melalui NeutraDC. Pada Semester I 2026, pendapatan NeutraDC mencapai Rp867 miliar, tumbuh 11% secara tahunan, dengan total kapasitas efektif 49,9 MW.
Permintaan fasilitas hyperscale data center masih kuat. Okupansi HDC Cikarang tercatat 96%, sementara HDC Batam ditargetkan beroperasi pada Semester II 2026 dengan kapasitas awal 6 MW.
Telkom juga memperkuat segmen B2B ICT. Pendapatan segmen SME tumbuh 11,5%, sedangkan pelanggan IndiBiz naik 11,7% menjadi 756 ribu.
Perusahaan menyiapkan rencana pengambilalihan 100% Digiserve untuk memperkuat kapabilitas solusi digital end-to-end bagi pelanggan enterprise.
Hingga Semester I 2026, Telkom membukukan pendapatan konsolidasi Rp75,9 triliun atau naik 3,9% secara tahunan. EBITDA mencapai Rp37,5 triliun dengan margin 49,4%, sedangkan laba bersih tercatat Rp10,6 triliun.
Telkom mempertahankan target 2026 dengan pertumbuhan normalized revenue 1%-3% dan margin EBITDA di atas 50%. Pada kuartal II 2026, margin EBITDA perusahaan telah kembali melewati ambang 50%.
Dengan penyederhanaan struktur, pemisahan infrastruktur, penguatan data center, dan ekspansi B2B ICT, Telkom menempatkan TLKM 30 sebagai fondasi untuk menggeser fokus dari pertumbuhan bisnis menuju penciptaan nilai jangka panjang.