KALIMANTAN TENGAH — PT BYD Indonesia secara terang-terangan memperkenalkan BYD Racco melalui akun Instagram resminya. Langkah ini bukan sekadar pamer, melainkan bagian dari riset pasar untuk mengukur minat konsumen Indonesia terhadap kendaraan listrik berukuran kota yang tengah populer di Jepang itu.
Head of PR & Government BYD Indonesia Luther Panjaitan mengonfirmasi bahwa pihaknya sedang mempelajari peluang penjualan Racco. Ia menyebut proses identifikasi pasar dan pengumpulan data dari konsumen masih berjalan.
"Ya kita masih tahap mencoba mengidentifikasi, mempelajari market-nya. Karena sebetulnya kan tipe kendaraan ini (Racco) tuh favoritnya di negara lain. Jadi melalui koneksi komunikasi langsung dengan pemilik melalui sosial media, kita mau tahu feedback dari market bagaimana," kata Luther di Subang, Jawa Barat, Kamis (3/9/2026).
Unggahan BYD Racco di Instagram disebut mendapatkan sambutan hangat. Luther mengaku hasil komunikasi awal dengan warganet cukup menggembirakan, meski belum cukup untuk memutuskan peluncuran.
"Surprisingly sangat positif ya. Tapi kita mau lihat dulu di sisi mana yang mungkin nanti bisa jadi strong point-nya khususnya di komunikasi, produk ini secara pricing, secara promosinya. Nah itu kita harus kalkulasi lagi," ujar dia.
Ia menambahkan, proses riset ini membutuhkan waktu karena BYD menggabungkan data teknis (engineering), riset pasar, dan selera konsumen di lapangan. "Oh ya, kita tunggu aja. Masih berproses. Ini kan kita coba mengkombinasikan hasil riset secara engineering dan riset market sama real taste yang di lapangan," jelasnya.
Racco bukan kendaraan sembarangan. Di Jepang, mobil ini dirancang sebagai penantang dominasi kei car konvensional dan langsung mencatatkan rekor penjualan yang impresif.
Sejak dipasarkan Juli 2026, BYD Racco membukukan 1.002 unit pesanan hanya dalam dua pekan. Perusahaan menargetkan total 10 ribu pemesanan hingga akhir 2026. Angka ini menjadi dasar optimisme BYD untuk berekspansi ke pasar Asia Tenggara, termasuk Indonesia.
"Yang jelas memang di negara awal dia diperkenalkan itu tanggapan respon masyarakat cukup baik ya. Nah itu satu hal positif yang membuat kita makin confidence. Mudah-mudahan ya sesegera mungkin," sambung Luther.
BYD Racco memiliki dimensi panjang 3.395 mm, lebar 1.475 mm, dan tinggi 1.800 mm dengan wheelbase 2.520 mm. Mobil ini sanggup memuat empat penumpang dan menyediakan bagasi 280 liter.
Dari sisi dapur pacu, BYD menyediakan dua pilihan baterai LFP berkapasitas 22,4 kWh dan 35,84 kWh. Motor listriknya menghasilkan tenaga maksimum 47 kW (sekitar 63 hp) dengan torsi 160 Nm. Jarak tempuhnya mencapai 210 km hingga 320 km tergantung varian baterai.
Untuk pengisian daya, varian 200 mendukung DC charging hingga 35,8 kW dengan konektor CHAdeMO. Sementara varian baterai lebih besar sanggup mengisi hingga 49,7 kW.
Di Jepang, BYD Racco dibanderol mulai dari 2,14 juta yen atau sekitar Rp 230 jutaan sebelum subsidi. Tersedia tiga varian: 200, 300 Plus, dan 300 Premium.
Luther belum mau membeberkan skema harga untuk Indonesia. Ia hanya menegaskan semua kemungkinan masih terbuka. "Bisa saja, bisa saja. Ya bisa saja. Semua tergantung nanti hasil riset internal," ungkap dia.
Jika benar meluncur, Racco akan bersaing di segmen city car listrik yang saat ini masih didominasi model berukuran lebih besar. Keunggulan utamanya jelas: dimensi super ringkas yang cocok untuk kemacetan perkotaan, plus harga yang relatif terjangkau dibandingkan mobil listrik konvensional.