Rupiah Tembus Rp17.847 per Dolar AS, IHSG Ikut Menguat ke 6.468

Penulis: Faizal Ramadhan  •  Selasa, 18 Agustus 2026 | 12:14:01 WIB
Rupiah melemah ke level Rp17.847 per dolar AS pada perdagangan pagi ini.

KALIMANTAN TENGAH — Pada pukul 10.04 WIB, kurs rupiah tercatat berada di angka Rp17.847 per dolar AS. Level ini menunjukkan tekanan berkelanjutan pada mata uang Garuda di pasar spot. Namun, di sisi lain, pasar saham domestik menunjukkan performa sebaliknya dengan IHSG yang melesat 1,04 persen ke posisi 6.468,47.

Perbedaan arah pergerakan antara nilai tukar dan indeks saham ini mencerminkan sentimen selektif investor. Arus modal asing yang masuk ke pasar saham kerap tidak sejalan dengan pergerakan mata uang yang lebih banyak dipengaruhi faktor eksternal, seperti kebijakan suku bunga global dan harga komoditas.

Perbandingan Kurs di Tiga Bank Besar

Untuk transaksi ritel, masyarakat perlu mencermati perbedaan kurs yang ditawarkan oleh masing-masing bank. Bank Mandiri, BCA, dan BNI memiliki rate yang berbeda tergantung jenis layanan, baik untuk transaksi tunai maupun elektronik (e-Rate).

Kurs e-Rate merupakan patokan yang digunakan untuk transaksi melalui e-Banking. Perlu dicatat, nilai ini bersifat fluktuatif dan dapat berubah sewaktu-waktu. Kurs yang dikenakan kepada nasabah adalah kurs pada tanggal efektif transaksi berlangsung, bukan saat melihat tampilan aplikasi.

Berikut rincian kurs jual dan kurs beli dolar AS di tiga bank utama pada Selasa pagi:

  • Bank Mandiri: kurs jual dan beli tercatat berbeda tipis dengan BCA dan BNI, mencerminkan strategi pricing masing-masing bank dalam mengelola likuiditas valas.
  • BCA: menawarkan spread yang relatif kompetitif untuk transaksi e-Rate, khususnya bagi nasabah yang rutin melakukan transaksi valas via mobile banking.
  • BNI: memberikan rate khusus yang tidak jauh berbeda dari pasar, dengan penyesuaian pada jam-jam tertentu saat volatilitas meningkat.

Apa Arti Pelemahan Ini bagi Masyarakat?

Bagi importir dan pelaku usaha yang bergantung pada bahan baku impor, pelemahan rupiah di atas Rp17.800 otomatis menaikkan biaya produksi. Tekanan ini biasanya berujung pada penyesuaian harga jual di pasar domestik dalam beberapa pekan ke depan.

Sementara itu, bagi masyarakat yang berencana bepergian ke luar negeri atau membayar layanan digital dalam dolar AS, nilai tukar ini berarti pengeluaran lebih besar dibanding beberapa bulan sebelumnya. Sebaliknya, eksportir justru diuntungkan karena penerimaan dalam dolar AS menjadi lebih bernilai saat dikonversi ke rupiah.

Para pelaku pasar kini menanti sinyal kebijakan moneter dari bank sentral AS yang akan menentukan arah pergerakan rupiah selanjutnya. Selama ketidakpastian global masih tinggi, volatilitas nilai tukar diprediksi akan terus berlanjut dalam jangka pendek.

Reporter: Faizal Ramadhan
Sumber: visi.news This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top