PALANGKA RAYA — Tim mahasiswa Fakultas Bahasa, Ilmu Pengetahuan, dan Teknologi UMPR berhasil membawa kearifan ekologis masyarakat Dayak ke dalam format digital. Mereka mengembangkan media pembelajaran berupa gim berbasis web yang dipadukan dengan teknologi Augmented Reality (AR) untuk mengajarkan pentingnya menjaga ekosistem gambut.
Proposal berjudul “ECO-MISSION AR: Gamifikasi Web dan Augmented Reality Berbasis Kearifan Ekologis Dayak untuk Meningkatkan Literasi Ekologi Siswa SMP pada Ekosistem Gambut” ini digarap oleh tim beranggotakan Rishella Dwitha Putri, Erni Yaya, Heniewati, dan William Hans Permana. Mereka lolos seleksi PKM Riset Sosial Humaniora dan mendapat pendanaan Rp 6.500.000.
Program ini menggabungkan dua teknologi sekaligus. Pertama, gim berbasis web yang mengadopsi sistem gamifikasi—siswa mendapat misi, poin, dan tantangan seputar ekologi gambut. Kedua, fitur Augmented Reality yang memungkinkan visualisasi 3D ekosistem gambut langsung dari ponsel, membuat materi abstrak jadi lebih nyata.
Yang membedakan, konten edukasi ini tidak sekadar teori. Tim memasukkan nilai-nilai kearifan lokal Dayak dalam setiap skenario permainan. “Kami ingin mengenalkan nilai-nilai ekologis masyarakat Dayak melalui media pembelajaran yang interaktif dan sesuai dengan perkembangan teknologi saat ini,” ujar ketua tim, Rishella Dwitha Putri, di Palangka Raya, Senin.
Kalimantan Tengah memiliki lahan gambut yang luas dan rentan terbakar. Kesadaran menjaga ekosistem ini dinilai perlu ditanamkan sejak usia sekolah. Melalui program ini, tim berharap siswa SMP tidak hanya paham teori, tapi juga memiliki kesadaran ekologis yang kuat terhadap lingkungan sekitarnya.
Dosen pembimbing tim, Mohamad Nor Aufa, M.Pd, mengapresiasi ide yang diangkat mahasiswanya. Menurutnya, inovasi ini sangat relevan dengan isu lingkungan di Kalimantan Tengah. “Mereka berhasil menggabungkan teknologi, pendidikan, dan kearifan lokal Dayak dalam satu inovasi pembelajaran,” tuturnya.
Setelah dana cair, tim akan mulai mengimplementasikan program di sekolah-sekolah di Palangka Raya. Target utamanya adalah meningkatkan literasi ekologi siswa sekaligus mempersiapkan diri melaju ke Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS).
Selama proses persiapan proposal, tim melakukan riset lapangan, penyusunan konsep program, dan pendampingan intensif bersama dosen pembimbing. Semua itu dilakukan agar program yang dijalankan nanti memiliki dasar akademik yang kuat dan aplikatif.
Keberhasilan ini diharapkan menjadi motivasi bagi mahasiswa UMPR lainnya untuk terus berinovasi dan menghasilkan karya yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga mampu bersaing di tingkat nasional.
Siswa SMP di Kalimantan Tengah menjadi sasaran utama. Dengan metode pembelajaran interaktif, mereka diharapkan lebih mudah memahami materi ekosistem gambut yang selama ini dianggap rumit. Guru juga diuntungkan karena mendapat alat bantu ajar digital yang kontekstual dan berbasis budaya lokal.