KALIMANTAN TENGAH — Pemerintah membuka pintu bagi pesantren-pesantren di Indonesia untuk mengubah lahan tidur menjadi ladang produktif. Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman, dalam pernyataan resmi di Jakarta, menawarkan bantuan penuh—mulai dari bibit gratis, pengolahan lahan yang ditanggung negara, hingga pendampingan teknis budidaya.
"Kami siapkan bibit komoditas perkebunan secara gratis, pengolahan lahan tanpa biaya, serta pendampingan dari penyuluh," ujar Amran. Program ini tidak berdiri sendiri. Kementerian Pertanian menggandeng BRI untuk akses permodalan dan PTPN sebagai offtaker hasil panen.
Bantuan yang ditawarkan bersifat end-to-end. Pesantren tidak hanya diberi bibit dan pupuk, tetapi juga akses alat mesin pertanian (alsintan) seperti traktor untuk membuka lahan. Proses pengolahan tanah hingga penanaman akan didampingi penyuluh lapangan.
Setelah panen, hasil produksi akan diserap oleh PTPN melalui skema kemitraan. Dengan begitu, pesantren tidak perlu pusing mencari pembeli. "Kami ingin pesantren menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru di pedesaan," tambah Amran.
Kementerian Pertanian menargetkan lahan pesantren produktif seluas 10.000 hektare dalam tahun pertama. Fokus utama adalah komoditas perkebunan strategis seperti kelapa sawit, kopi, kakao, dan tebu. Wilayah sasaran meliputi Jawa Timur, Jawa Barat, Sumatera Selatan, dan Sulawesi Selatan.
BRI, sebagai bank BUMN, akan menyediakan kredit usaha rakyat (KUR) dengan bunga 6 persen untuk pesantren yang ingin mengembangkan usaha di luar bantuan pemerintah. Sementara itu, PTPN bertindak sebagai mitra pemasaran dan penyedia teknologi pengolahan pasca-panen.
Program ini dirancang tidak hanya untuk meningkatkan produksi pangan, tetapi juga menciptakan wirausaha baru dari kalangan santri. Dengan pendampingan intensif, santri diajari cara mengelola lahan, membaca pasar, hingga mengelola keuangan usaha.
"Ini bukan sekadar bagi-bagi bibit. Kami ingin pesantren mandiri secara ekonomi," tegas Amran. Di beberapa pesantren di Jawa Timur yang sudah menjalani program percontohan, produksi cabai dan bawang merah meningkat 30 persen dalam satu musim tanam.
Program ini sejalan dengan arahan Presiden untuk memperkuat ketahanan pangan nasional sekaligus mengurangi ketergantungan pada impor. Dengan melibatkan pesantren, negara tidak hanya menambah luas tanam, tetapi juga membangun ekosistem agribisnis yang inklusif.